Buddha
Sinopsis
“Buddha” adalah salah satu karya besar Osamu Tezuka, si dewa manga yang melahirkan Astro Boy dan Blackjack (kebangetan kalo sampai gak pernah denger dua manga itu). Naskah aslinya ditulis pada tahun 1974 hingga 1984, namun versi terjemahannya baru beredar beberapa tahun belakangan ini.
Terdiri dari 8 jilid, Buddha bercerita tentang perjalanan hidup Siddharta Gautama atau sang Buddha, sejak ia dilahirkan hingga akhir hayatnya. Banyak pula kisah-kisah mengenai orang-orang di sekitar beliau (plus beberapa karakter fiksi tambahan) serta cerita-cerita tentang kemanusiaan yang menyentuh. Tentu saja tanpa melupakan berbagai ciri khas manga itu sendiri.
Selain di negara asalnya, Jepang, dan India, manga ini juga populer di Indonesia dan bahkan negara-negara barat. Tidak kurang media sekelas BBC dan Time menunjukkan apresiasinya. Ini cukup untuk membuktikan seberapa hebat kualitas dari manga Buddha.
Resensiku
Membaca buku biografi adalah salah satu kegiatan yang paling saya benci. Tapi manga ini merubah segalanya. Meskipun tidak 100% sesuai jalur, namun tahap demi tahap perjalanan hidup sang Buddha jelas tergambar. Termasuk berbagai filosofinya tentang kehidupan, kemanusiaan, dan kematian. Sedikit banyak saya jadi mengetahui garis besar ajaran agama Budha.
Yang unik dari manga Buddha adalah, Osamu Tezuka tidak takut untuk menggambarkan sisi lain dari Siddharta Gautama. Ditunjang dengan kehadiran beberapa tokoh fiksi, selipan humor-humor segar khas manga dapat membalut ajaran-ajaran Buddha dengan indahnya, tanpa sedikit pun mengurangi maknanya.
Dengan latar belakang cerita yang jadul, pengarang seringkali menyelipkan lelucon-lelucon ‘modern’. Seperti pada saat penduduk akan melakukan pemberontakan, tiba-tiba salah satu dari mereka mengeluarkan radio dan berkata, “Sebentar, ada pengumuman penting nih”. Penduduk yang lain menjawab, “Loh kamu ngeluarin apaan? Ini kan belum jamannya?”
Walaupun digambarkan se’ceria’ mungkin, banyak pula kisah-kisah menyentuh yang terselip dalam manga ini. Pada cerita pembuka pun kita sudah disuguhi kisah tentang kelinci yang rela berkorban demi seorang pertapa yang kelaparan dan hampir mati. Saya yang sudah pernah membaca cerita ini waktu kecil di majalah Bobo pun masih sempat merasa terhenyak saat membacanya.
Selain berfokus pada kehidupan Siddharta Gautama, manga Buddha juga menceritakan tentang kerasnya sistem kasta di India pada saat itu, serta sifat-sifat manusia yang dapat berubah, baik ke arah kebaikan maupun kejahatan.
Baca deh, gak bakal nyesel kok ![]()

bimo Said,
December 5, 2007 @ 5:07 am
ntar nyari di toko buku ah, di jogja dah ada belm ya?
id Said,
December 5, 2007 @ 6:54 am
mas cosa upload dunk budhanya d situs mangga mas cosa….
oche….
cosa Said,
December 5, 2007 @ 8:23 am
@id

lom dapet scanlate-nya
beli aja ah, keren kok
cosa Said,
December 5, 2007 @ 8:24 am
@bimo
mestinya dah ada, seri 8 di indo udah terbit sejak oktober/november kok
ekwoanz Said,
December 6, 2007 @ 12:16 am
aq kemarin ada juga yg ceritanya mirip ini…tapi lupa judulnya apa plus siapa yg ngarang..baru buku 1 kok
Suray Said,
December 6, 2007 @ 11:04 am
Banyak orang yang tidak memahami ajaran sang Buddha akan mengira kalau umat Buddha menyembah patung dan berhala. Banyak pula yang tidak memahami keluhuran ajaran sang Buddha malah mencemooh ajaran sang Buddha yang membuat keluarga umat Buddha menjadi kacau balau karena sanak keluarga ada yang memutuskan untuk hidup selibat alias meninggalkan kehidupan berkeluarga. Banyak pula orang yang tidak memahami ajaran sang Buddha akan mengira kalau ajaran sang Buddha adalah ajaran sesat yang tidak mengajarkan ajaran penyembahan pada Tuhan sang pencipta.
Siddharta (Buddha Sakyamuni) adalah seorang yang telah memahami hakekat kehidupan setelah proses tumimbal-lahir dalam kurun waktu yang sangat panjang (asankheya kappa), dalam tiap proses kehidupannya, beliau selalu berusahan untuk menyempurnakan kebajikan, melatih dan mendisiplinkan diri. Dengan segenap kekuatannya sendiri, beliau mencari jalan untuk mengakhiri penderitaan manusia dari lingkaran kehidupan dan kematian (roda samsara).
Dalam banyak proses kehidupan, Siddharta adalah sama halnya dengan kita, makhluk fana, yang tak luput dari penderitaan. Namun, berkat pengembangan moralnya dan dengan daya kebijaksanaanya, beliau tidak lagi merasakan ujian berat kehidupan ini sebagai penderitaan. Alih-alih beliau merasa kalau semua hal yang terjadi dalam kehidupan adalah bahan pelajaran penting dalam melatih diri.
Hidup seperti keadaan kita saat bersekolah, jika dalam satu kehidupan kita tidak berhasil untuk melalui cobaannya, kita selalu akan memperoleh kesempatan untuk mengulangnya hingga berhasil dan naik kelas. Bagi umat Buddha, mustahil dalam satu kehidupan mampu mendisiplinkan diri dan membebaskan pikiran serta memurnikannya dari keinginan duniawi yang tiada kekal adanya.
Sang Buddha, adalah makhluk yang telah mencapai pencerahan sempurna setelah mengalami penyelaman Dharma selama 6 tahun. Ia adalah guru, dan satu-satunya guru terbaik (bagi umat Buddha) bagi manusia dan dewa. Ia melarang adanya penyembahan berlebihan pada makhluk-makhluk yang manusia yakini akan menyelamatkan hidup mereka, sebab sang Buddha menyadari bahwa tiada makhluk di dunia manapun yang sanggup menyelamatkan makhluk lainnya dari perputaran roda penderitaan kehidupan dan kematian bila makhluk yang menderita itu tidak mau menyelamatkan dirinya sendiri.
Perilaku teladan sang Buddha mengajarkan umatnya bahwa, sebaiknya umat Buddha membangun benteng (pelindung) di atas pulaunya sendiri (diri sendiri). Ini menjadi bukti, bahwa semua makhluk mempunyai kualitas dan watak kebuddhaan. Ajaran sang Budda telah menjadi suatu ajaran yang bersifat me-liberal-kan umatnya dari rasa takut, pemahaman, pandangan yang salah akan makhluk Adi-Kuasa. Manusia adalah penolong bagi dirinya sendiri, tak ada makhluk yang mampu menyempurnakan dan menyucikan makhluk lainnya kecuali pribadi itu sendiri.
Akhir kata, semoga semua makhluk baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat turut berbahagia dan mengenyam kebajikan kita. Semoga yang membaca tulisan ini turut bersuka cita dalam pemahaman ajaran Dharma, yang menuntun manusia untuk terbebas dari lobha (keserakahan), dosa (kebencian) dan moha (ketidaktahuan).
cosa Said,
December 6, 2007 @ 12:29 pm
@suray
mohon diralat bila salah, krn aku gak tau sejauh mana manga ini melenceng (ato mungkin malah gak sama sekali?) dari ajaran Buddha yg sebenarnya
untuk poin ini:
yg diajarkan oleh Buddha (berdasarkan manga) adalah:
1. pada dasarnya setiap orang sebenarnya menderita, hanya tergantung dari sudut mana kita melihatnya
2. krn setiap orang menderita dan pasti akan mengalami kematian, lebih baik isi kehidupan dengan berbuat baik kepada sesama makhluk hidup (tidak terbatas kepada manusia)
sedang untuk masalah berhala, di bagian awal buku 1 sudah langsung disinggung bahwa kaum pertapa jaman itu lah (sebagian, yg sudah teracuni oleh materi) yg melakukan penyembahan berhala
satu yg menurutku cukup menarik untuk diperhatikan di dalam manga ini adalah, aturan kasta yg amat sangat kuat dimana orang yg berkasta tinggi akan merasa lebih terhormat dibanding kasta di bawahnya. Menarik karena pola pikir ini juga dianut oleh kasta pertapa serta sebagian besar karakter “putih” di dalam cerita.
yah, aku ulang deh kalimat terakhirku di resensi…
Baca deh, gak bakal nyesel kok
Suray Said,
December 6, 2007 @ 5:10 pm
Sesungguhnya, semua makhluk menderita, adalah benar adanya. Termasuk juga (ini keyakinan umat Buddha) hewan-hewan yang harus rela dipotong di tempat pejagalan. Ada enam kategori makhluk yang tergolong dalam alam samsara, yakni: alam surga (tempat tinggal para dewa-dewi, mereka mempunyai kekuatan yang melebihi manusia, makhluk inilah yang biasa disembah oleh umat yang agamanya tergolong polytheistic, siapapun yang mempraktekkan jalan arya beruas delapan dan lima sila dapat terlahir di alam ini), alam asura (tempat jin atau raksasa, merupakan musuh para dewa-dewi, mereka jatuh ke alam ini karena keangkuhannya), alam manusia (tempat tinggal kita), alam hantu kelaparan (alam ini adalah tempat kelahiran berikut bagi makhluk/khususnya manusia yang semasa hidup kikir dalam berderma dan tak mempraktekkan kebajikan. Ini adalah alamnya suster ngesot, hantu-hantu yang suka tinggal di kamar mandi, dll.), alam hewan (karena semasa hidup berperilaku selayaknya hewan, tidak manusiawi) dan alam neraka (sangat banyak mempraktekkan kejahatan semasa hidup).
Biasanya, makhluk yang disebut Buddha, harus melalui tahap kehidupan sebagai manusia, sebab terlahir di alam inilah, seseorang mampu mempraktekkan latihan yang mengarah ke arah Dharma sejati secara lebih baik. Tentu semua makhluk berkesempatan menjadi Buddha, termasuk bang Cosa
Semua itu tergantung dari sebab jodoh yang telah ada sebelumnya, yang disebut akar kebajikan. Bang Cosa berkesempatan mengenal manga Buddha juga merupakan sebab jodoh yang baik, hal ini mengkondisikan anda bisa mengenal ajaran sang Buddha. Sebab sesungguhnya dapat terlahir dengan tubuh manusia adalah sulit, terlahir sebagai manusia dapat mengenal ajaran Dharma adalah jauh lebih sulit lagi. Suatu kesempatan yang diperoleh seseorang untuk mengenal Dharma, sore hari mati pun, takkan pernah sia-sia.
Mereka yang dalam kapasitas tertentu telah mengikis batinnya dari kilesa (hambatan untuk memperoleh atau mempraktekkan Dharma) maka akan merasa hidup yang serba menderita sebagai suatu hal yang tiada artinya. Tak ada lagi penderitaan yang terasa. Bumi kita ini pun dapat menjadi Nirvana (pembebasan akhir).
Tak dapat dipungkiri, salah satu alasan sang Buddha membabarkan ajarannya adalah untuk menghapus sistem kasta yang sangat merendahkan harkat dan derajat manusia. Ia juga hadir untuk mencerahkan pandangan salah yang selama ini (pada saat itu, masa sang Buddha Gotama) diyakini benar oleh khalayak ramai. Hingga tak heran beliau mengajarkan pada umatnya, untuk tidak mempercayai berdasarkan apa yang kita lihat, ajaran guru, kitab suci, atau bahkan ajaran dari-Nya sendiri. Sebelum seseorang menimbang, menyelaminya dan merasakan bahwa ajaran itu benar, barulah boleh dipercayai. Ini disebut prinsip Ehipassiko.
Saya salut sama minat mas Cosa, meski bukan beragama Buddha, mau dan rela membaca manga yang sesungguhnya menitik beratkan ajaran dan kehidupan dari sang Buddha itu sendiri.
Saya blom sempet beli bukunya, tapi kalo ke Gramedia, saya akan membacanya di sana. Maklum, penghasilan adsense saya super-cilik
Bayu mukti | Resensi Film dan Resensi Buku Said,
December 16, 2007 @ 10:45 am
[…] Resensi buku yang dihadirkan dalam situs resensiku.com sepertinya masih 1 buku yaitu Buku yang berjudul Buddha. Yang lucu disini adalah kata-kata dari si empunya website tersebut ““Buddhaâ€? adalah […]
pandi merdeka Said,
December 18, 2007 @ 9:27 am
jieeeeeee om cosa ada kesempatan jadi budha nihh \:d/ semangat omm
Resensi film dan buku » TCP/IP == tEMPAT cARI(/iLMU) pENGETAHUAN Said,
December 19, 2007 @ 11:22 am
[…] tebal buku (contohnya dapat dilihat dari situs ini). Namun jika saya lihat dari resensi dari manga Buddha sudah terdapat penulis dan tebal buku yaitu terdapat kata-kata “…8 […]
fuadpahing Said,
December 19, 2007 @ 4:14 pm
waduh aku baru tau ada manga Buddha, BLACKJAK bagus tuh, keren apalagi yang 20th century boy, cool!
bodrox Said,
December 29, 2007 @ 6:58 pm
oo… Osamu Tezuka itu yang buat Astro Boy toh? baru tahu… pantesan komiknya ada di jajaran buku bestseller… Ooo… Gue pikir karena dia cuma buat buku tentang budha aja jadi bukunya terkenal… oo..pantes,,,